Overthinking: Ketika Hal Sepele, Jadi Ribet di Kepala

 

Ilustrasi wanita berpikiran penuh hingga depresi. (Dok. Detikhealth)


Penulis: Rivanti

Pernah nggak sih, kamu udah niat mau istirahat, badan udah rebahan, suasana kamar udah tenang, tapi isi kepala malah muter terus? Niat awalnya cuma mau “healing sebentar”—scroll TikTok, Instagram, dan buka Twitter. Tapi yang ada malah jadi banding-bandingin diri sendiri.

Niatnya sih, buat istirahatin pikiran aja. Tapi yang dilihat di media sosial malah pencapaian orang lain. Sebenarnya itu gak masalah, yang jadi masalah itu pikiran kita sendiri yang belum bisa kita kendaliin. Lihat teman kerja udah pada beli mobil, teman sekolah udah nikah, teman kampus lanjut S2 di luar negeri bahkan sampai pulang-pergi ke luar negeri. Sampai nggak sengaja kepikiran, “Bisa nggak ya gue kayak dia? Kayaknya hidup dia udah enak banget.” Atau, “Kenapa sih, gue masih gini-gini aja, padahal udah usaha?”

Niat awal mau rehat, eh, malah makin capek. Pikiran berlebihan kayak gitu sering muncul tanpa kita sadari, ini awal mula Overthingking (OVT). Ujung-ujungnya? Susah tidur, anxious, dan ngerasa hidup tetap stuck di tempat yang sama.

Apa Itu Overthinking?

Overthinking atau pikiran berlebih, menurut ikatan dokter Indonesia OVT biasanya muncul ketika seseorang cenderung memikirkan sesuatu secara berlebihan. Bahkan hal-hal kecil bisa jadi masalah besar di kepala kalau nggak bisa mengatasinya. 

OVT bisa terjadi kepada siapa saja. Bahkan terjadi juga ketika kita dalam kondisi dan keadaan yang menyenangkan, namun otak kita tiba-tiba berpikir keras dan khawatir akan sesuatu yang bahkan belum terjadi. Tak hanya belum terjadi, seseorang bisa saja memikirkan hal yang sudah terjadi, yang belum dikerjakan, bahkan yang belum tentu terjadi dan dipikirkan secara berulang-ulang seperti masalah yang berat.

Kenapa Kita Suka Overthinking?

Berikut beberapa faktor yang memicu adanya pikiran berlebih pada diri seseorang:

1. Dituntut Produktif dengan Zaman

Sekarang dunia serba digital, semuanya serba cepat. Kita dituntut untuk terus produktif, berkarya, dan seolah-olah harus sukses sebelum umur 25. Rasanya kalau santai sebentar, takut ketinggalan dan kalah start sama orang lain. Padahal, waktu sukses tiap orang itu nggak ada deadlinenya. Setiap orang punya waktunya sendiri untuk bersinar.

2. Menjadikan Medsos Sebagai Standar Hidup

Kebiasaan terlalu lama berselancar di medsos bikin kita menetapkan standar hidup lewat apa yang kita lihat di sana. Padahal, yang diposting di media sosial cuma sebagian kecil dari hidup mereka yang sudah dipilih, diedit, dan difilter. Kita sering lupa, lalu membandingkan hidup kita yang nyata dan penuh perjuangan dengan hidup orang lain yang sudah dikemas rapi.

3. Punya Pola Pikir Perfeksionis & Takut Salah

Ada juga yang overthinking karena terlalu takut gagal. Merasa harus selalu memberikan yang terbaik untuk semua orang. Akhirnya, hal kecil pun dipikirin terus. Padahal, apa yang sudah kamu lakukan juga sudah baik. Tapi karena standar tinggi dan keinginan untuk sempurna, jadinya malah nggak bergerak sama sekali.

Ciri Orang yang Mengalami OVT

Orang yang mengalami overthinking (OVT) biasanya terjebak dalam siklus pikiran yang berulang-ulang tentang suatu masalah, mempertimbangkan terlalu banyak opsi dan konsekuensi hingga takut membuat kesalahan, serta sering membayangkan kemungkinan terburuk dalam berbagai situasi. Kondisi ini juga membuat mereka sulit tidur karena pikiran yang terus-menerus muncul, merasa stres dan tegang secara konstan, serta cenderung menganalisis segala sesuatu secara berlebihan hingga memikirkan setiap detail secara rinci.

Dampak Negatif OVT

OVT tentunya berdampak negatif pada kesehatan mental, seperti meningkatkan risiko stres, depresi, kecemasan, bahkan gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Selain itu, kesehatan fisik juga bisa terganggu, misalnya dengan munculnya kelelahan, insomnia, sakit kepala, dan masalah pencernaan. Dalam hubungan sosial, OVT membuat seseorang sulit bersantai, mudah cemburu, dan sering membandingkan diri dengan orang lain. Akibatnya, produktivitas pun menurun karena sulit fokus dan menyelesaikan pekerjaan.

Cara Mengatasi Overthinking

1. Batasi Penggunaan Media Sosial

Langkah pertama yang cukup mudah adalah membatasi penggunaan media sosial. Jika terus-menerus melihat pencapaian orang lain tanpa menghargai proses diri sendiri, overthinking akan terus terjadi.

2. Sadari OVT Sejak Awal

Sadari ketika kamu mulai overthinking, dan akui bahwa itu memengaruhi kehidupan sehari-hari.

3. Latih Kesadaran Diri

Kenali pola-pola pikiran negatif yang muncul. Dengan begitu, kamu bisa menangani dan menghentikan pemikiran berlebihan.

4. Tulis Isi Pikiran di Notebook

Tulis semua pikiran dan unek-unekmu. Kadang, yang bikin stres bukan masalahnya, tapi karena pikiran itu menumpuk di kepala.

5. Cerita ke Orang yang Dipercaya

Kadang, solusi dari overthinking adalah didengar. Ceritakan apa yang membuat kepalamu berisik ke teman terdekat atau orang yang kamu percaya.

6. Fokus pada Kegiatan yang Kamu Suka

Lakukan hal-hal yang kamu sukai. Meditasi atau aktivitas positif bisa membantu mengurangi stres dan mengalihkan perhatian dari overthinking.

OVT sering muncul karena tekanan hidup, standar media sosial, dan pikiran perfeksionis. Hal sepele bisa terasa berat kalau dipikirin terus. Tapi, kamu bisa pelan-pelan menguranginya. Ingat, kamu nggak harus sempurna. Hidup bukan perlombaan. Semua orang punya waktunya masing-masing untuk bersinar.


Rivanti Erawati

Halo! Saya Rivanti Erawati, penulis di Kanvasan.id. Blog ini saya buat pada, 25 Agustusus 2025. Melalui blog ini, saya ingin berbagi pengalaman, cerita, dan berbagai informasi menarik dengan Anda. Selamat datang di Kanvasan.id! Semoga Anda menikmati setiap tulisan yang saya bagikan di sini.

1 Komentar

  1. Aku sering bgt ovt kalo malam, thanks ya tips nya

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama

Popular Items