![]() |
| Ilustrasi aplikasi Tiktok yang mengubah cara pandang seseorang, (Dok. Lifestyle.bisnis.com) |
Jakarta, Kanvasan.id - Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dari bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur, sebagian besar dari kita tidak pernah lepas dari layar ponsel. Salah satu aplikasi yang paling sering kita buka dan tanpa sadar jadi candu adalah TikTok.
Aplikasi ini begitu populer karena menyajikan hiburan cepat, mudah diakses, dan sangat personal. Tapi di balik keseruannya, apakah kita benar-benar menyadari efek jangka panjang yang dibawa oleh TikTok terhadap fokus, emosi, dan cara berpikir kita?
Mari kita lihat lebih dalam, bagaimana TikTok bukan hanya mencuri waktu, tapi juga membentuk ulang cara kita melihat dunia—dan diri kita sendiri.
Tiktok Menjadi Rutinitas
Apakah dalam sehari kamu tahan tidak membuka Tiktok? lima jam? dua jam? atau bahkan 20 menit udah gatal mau scroll Tiktok? mungkin buat banyak orang, Tiktok awalnya cuma hiburan semata, tempat cari video lucu, konten edukasi, nonton orang curhat hingga informasi yang bisa kamu dapatkan langsung di Tiktok.
Tapi lama-lama, kita sadar sendiri kalau aplikasi ini tuh mulai ngambil fokus, waktu dan pikiran yang bahkan tanpa sadar kita udah mulai kecanduan. Tiktok itu pintar, dia tahu apa yang kita suka. Begitu kita nonton video lucu sampai habis, berikutnya dia akan menampilkan video-video serupa yang lebih lucu, dramatis dan seru.
Algoritma itu terus bekerja untuk menampilkan video yang sesuai dengan kebiasaan dan selera kamu—semakin sering dibuka, semakin personal kontennya. Ini yang bikin kita betah lama-lama di aplikasi Tiktok. Kita merasa video-videonya “gua banget,” padahal itu semua memang sudah dikalkulasi oleh sistem Tiktok.
Aplikasi Tiktok dirancang untuk menciptakan dopamin loop, artinya setiap kali kamu menemukan video yang menyenangkan, otakmu melepaskan dopamin atau zat kimia yang bikin kamu merasa senang dan puas. Semakin sering kamu scroll, semakin sering dopamin dilepaskan, dan semakin kamu ingin mengulanginya Sumber: CNN Health, 2022.
Sampai kita pikir, “satu video lagi deh, tanggung.” eh tau-tau udah sejam kita scroll Tiktok, padahal tugasnya belum selesai dikerjain, atau jam tidur udah kelewat jauh cuma untuk scroll Tiktok. Emang sih keliatan sepele, tapi coba bayangin seberapa banyak waktu yang kita habiskan sia-sia cuma untuk scroll Tiktok.
Waktu yang Terbuang karena Screen Time
Sekilas, menonton video lucu atau inspiratif nggak kelihatan bahayanya. Tapi kalau itu terjadi selama 2–5 jam setiap hari, dampaknya mulai terasa ke banyak hal: mulai dari konsentrasi turun, tidur terganggu, emosi jadi tidak stabil, bahkan muncul perasaan kosong atau rendah diri.
Berdasarkan laporan dari Common Sense Media tahun 2023, rata-rata remaja menghabiskan hampir 4,1 jam per hari hanya untuk Tiktok. Yang bikin miris, lebih dari 30% dari mereka mengaku sulit berhenti meski sadar waktunya sudah terlalu lama. Konten instan dengan informasi padat dalam waktu singkat membuat kita jadi terbiasa menerima hiburan secara instan.
Akibatnya, kita mulai kehilangan minat pada hal-hal yang butuh proses dan kesabaran—seperti membaca buku, belajar serius, atau mendengarkan orang lain berbicara tanpa distraksi. Selain itu, yang bikin ngeri Tiktok cuma buang-buang waktu. Dia bisa saja mengubah cara pikir kita dengan konten yang pendek-pendek dan kata-kata yang pendek, singkat dan padat itu.
Biar kita bosan sama bacaan yang panjang-panjang dan mengurangi minat baca kita. Kemudian, kita jadi terbiasa baca yang instan dan pendek. Otak kita terus dimanjakan sama dopamin instan. Oleh karena itu, karena terbiasa, ketika kita bangun tidur kita langsung membuka handphone dan membuka aplikasi Tiktok. Di transportasi umum, kepala kita menunduk menatap layar.
Saat makan, bukan fokus ke makanan, tapi malah fokus cari ide konten dan gerakan Tiktok yang lagi tren. Kita menjadi makhluk yang selalu butuh distraksi. Bahkan diam satu menit tanpa HP pun terasa aneh dan gelisah.
Scroll Terus, Bisa Bikin Minder
Masalah lain yang muncul adalah perbandingan sosial. Kita menonton video orang-orang yang terlihat hidup sempurna, punya karier sukses, sering liburan ke tempat indah, cantik dan kaya. Padahal, belum tentu semua itu nyata. Hal itu bisa saja filter, settingan atau bahkan editan yang hanya diperlihatkan di video, kita tidak tahu kehidupan aslinya seperti apa.
Namun, karena kita terlalu sering menonton Tiktok, otak kita menelan itu sebagai standar kehidupan. Misal, orang lain membuat konten Tiktok tentang cara berkomunikasi atau gaya hidup seseorang yang cukup tinggi. Nah, tanpa sadar itu menjadi standarisasi kita sendiri sebagai pengguna Tiktok. Kita yang merasa tidak cukup, tidak secantik, sekaya mereka hingga tidak semenarik konten orang lain.
Perasaan ini lama-lama bisa merusak kepercayaan diri, bahkan memicu kecemasan dan depresi. Menurut survei dari American Psychological Association (2023), penggunaan Tiktok secara berlebihan berhubungan dengan peningkatan gejala gangguan cemas dan perasaan tidak berharga di kalangan remaja dan dewasa muda.
Apa yang Harus Dilakukan?
Tetapi Tiktok tidak sepenuhnya buruk. Banyak juga konten yang bermanfaat dalam kehidupan dari Tiktok: edukasi, tips hidup, motivasi, bahkan ilmu yang dikemas menarik menjadi bentuk video Tiktok. Kita hanya perlu sadar akan batasan penggunaan platform Tiktok. Kita harus bisa mengontrol diri, bukan dikendalikan oleh aplikasi.
Coba mulai dari hal sederhana:
- Atur screen time harian.
- Pakai alarm sebagai pengingat waktu scroll.
- Luangkan waktu tanpa HP—misalnya satu jam sebelum tidur.
- Aktifkan notifikasi hanya untuk hal penting.
- Sesekali lakukan digital detox.
Yang paling penting: jangan biarkan dunia nyata kalah oleh dunia yang cuma kita lihat di layar. Karena seberapa seru pun Tiktok, tidak akan pernah bisa menggantikan tawa teman secara langsung, obrolan hangat dengan keluarga, atau momen kecil yang tidak perlu difilter.
