![]() |
| Ilustrasi wanita yang berpikir keras, bingung akan sifat dari dirinya sendiri. (Dok. Duke Corporate Education) |
Jakarta, Kanvasan.id - Beberapa waktu lalu, aku pergi nongkrong bersama teman-teman kampus. Saat kumpul, aku merasa senang mengobrol banyak dengan mereka. Obrolannya seru, tawaku pecah berkali-kali. Rasanya sangat hangat dan menyenangkan, membuatku lupa waktu ketika bersama mereka. Tapi begitu sampai di rumah, justru aku yang paling rindu dengan kamar. Paling nyaman ketika sendiri dan tidak bersosialisasi dengan siapapun.
Aku mulai bertanya-tanya, sebenarnya sikapku ini seperti apa sih? mau dibilang ekstrovert tapi aku suka menyendiri. Dibilang introvert, aku juga suka bersosialisasi. Di tengah-tengah kebingungan itu, aku menemukan sebuah istilah yang sangat menggambarkanku; ambivert.
Mengutip dari Jobstreet.com, ambivert adalah kepribadian seseorang yang berada di tengah-tengah ekstrovert dan introvert. Sebagai contoh, aku. aku bisa bersosialisasi dengan banyak orang, tetapi aku juga membutuhkan waktu untuk menyendiri dan mengisi ulang energi. Itulah yang dimaksud kepribadian ambivert.
Ketika ada teman yang mengajakku main, aku tidak serta-merta menjawab "iya". Aku akan mempertimbangkan terlebih dahulu, dengan berbagai pertimbangan baik dan buruk. Aku akan bertanya kepada diriku, apakah aku ingin menyendiri atau ingin bersosialisasi. Jawabannya tergantung kebutuhan dan keinginanku.
Minsalnya, Caca mengajakku nongkrong. Aku pastinya tidak akan langsung menerima tawaran itu. Aku akan memastikan bagaimana perasaanku hari itu, Kalau energiku cukup dan moodku baik, aku akan pergi. Tapi kalau tidak, aku menolaknya dan memilih untuk tinggal di rumah tanpa rasa bersalah. Bagiku, menolaknya pun tidak masalah. Daripada aku pergi dengan mood yang berantakan, atau jiwaku yang masih ingin sendiri.
Selain itu, menurut Alodokter, orang dengan kepribadian ambivert cenderung memiliki empati yang tinggi, mampu menjadi pendengar yang baik dan pintar berkomunikasi. Ketika temanku ingin bercerita, aku pasti dengan senang hati akan mendengarkan sampai selesai. Setelah itu, aku akan menanggapi cerita tersebut. Tapi sebelumnya aku akan bertanya dulu padanya, "Kamu ingin didengarkan saja, atau butuh saran?".
Bagiku, mendengarkan orang lain bercerita itu adalah hal yang penting. aku ingin dia tau bahwa dia tidak sendiri dan mempunyai tempat cerita. Meski, kadang aku gak punya solusi.. tapi aku tetap ada.
Menjadi ambivert, menurutku sulit menemukan teman yang cocok atau sefrekuensi. Karena jika aku tidak menemukan teman yang cocok, aku akan lebih banyak diam dan menjaga jarak. Bukan karena marah, tapi karena aku butuh waktu untuk menyesuaikan dan membuka diri. Sebaliknya, aku akan cerewet dan aktif ketika bertemu teman yang membuatku nyaman.
Dulu aku merasa kepribadian "tidak tegas"- tidak tau arahnya ke mana. Entah ekstrovert atau ambivert. Tapi sekarang, berada di tengah dua kepribadian itu bukan masalah. Justru aku bisa menyesuaikan berbagai situasi, meski membutuhkan waktu.
Jadi, jika kamu merasa tidak seimbang dengan kepribadianmu. Tidak apa-apa, karena itu normal. Menyendiri bukan berarti kita tidak bisa bersosialisasi, tapi kita juga perlu waktu untuk mengisi ulang energi. Dan itu baik-baik saja.
