Masa Depan Cerah: EQ Anak ala Nikita

 

Nikita dan anaknya, mempunyai hubungan kuat secara emosional. (Dok. Fimela.com)

Jakarta, Kanvasan.id - Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu beriringan dengan perasaan emosional. Namun, mengelola emosi bukanlah hal yang mudah dan sering menjadi tantangan, terutama ketika kita harus membimbing anak-anak untuk menenangkan dan mengatur perasaan mereka.

Kemampuan ini dikenal sebagai Emotional Quotient (EQ) atau Kecerdasan Emosional. Jika kita tidak mampu mengontrol emosi diri sendiri, maka segala pekerjaan yang kita lakukan akan menjadi tidak stabil dan tidak teratur. Oleh karena itu, jika kita belum bisa mengatur emosi diri sendiri, bagaimana kita dapat mengatur dan menenangkan emosi orang lain, contohnya pada anak-anak?

Winny Suryania, M.Psi, Psikolog yang merupakan psikolog klinis anak dan juga konselor Sekolah Cikal Amri Setu, menjelaskan bahwa kecerdasan emosional anak merupakan kemampuan dari seorang individu untuk mengidentifikasi dan mengelola emosi dirinya sendiri, serta emosi orang lain. Anak-anak ibarat tanaman yang tumbuh subur dengan penuh cinta dan perhatian.

Peran EQ, sering kali terabaikan di tengah fokus prestasi akademik. Padahal, EQ adalah fondasi utama dalam membentuk pribadi anak yang sehat dan kuat. Karena anak yang memiliki emosi meledak dan kurang empati, menunjukkan EQ yang belum berkembang. Tapi hal ini bisa diatasi dengan cara pengelolaan emosional sejak dini, dengan dukungan orang tua, EQ anak akan tumbuh dengan sehat dan baik.

Di tengah gemerlap dunia hiburan, Nikita Willy muncul sebagai Ibu muda yang berhasil membentuk dan menanamkan kecerdasan emosional sejak dini kepada anaknya, Issa Xander. Sejak berusia empat bulan, Nikita sudah membiasakan Issa tidur sendiri. Hal ini sebagai bentuk dari pelatihan kemandirian emosional. Gaya parenting Nikita yang aktif, sabar, dan penuh kesadaran emosionalnya ini menjadikannya sorotan dalam dunia Ibu rumah tangga

Nikita, dikenal sebagai sosok ibu muda yang tenang dan tidak mudah terpancing emosi. Lebih tepatnya dia dapat mengontrol emosionalnya dengan baik, bahkan dia tidak terpancing emosi saat mendapati tingkah laku anaknya yang menantang. Ketika Issa melempar benda berat ke meja, Nikita tidak marah dan membentak. Ia justru tenang dan mengatur emosinya dengan baik. Sikap ini mengajarkan anak bagaimana mengekspresikan emosi tanpa kekerasan. 

Agar ikatan emosional mereka kuat, Nikita memilih untuk merawat Issa tanpa babysitter. Kedekatan ini bisa menjadi fondasi kuat dalam pembentukkan EQ. Melalui sleep training sejak usia empat bulan, Nikita mengajarkan Issa untuk mandiri. Meski terlihat tegas, Nikita tetap menekankan kelembutan dan kebebasan berekspresi dalam batas yang sehat di setiap pola asuh yang diberinya. Pola asuh yang penuh empati dan lembut membuat anak merasa nyaman dan kuat menghadapi kekecewaan. 

Ia percaya, kedekatan ini bisa menjadi fondasi kuat dalam pembentukkan kecerdasan emosional. Melalui sleep training sejak usia empat bulan, Nikita mengajarkan Issa untuk mandiri. Meski terlihat tegas, Nikita tetap menekankan kelembutan dan kebebasan berekspresi dalam batas yang sehat di setiap pola asuh yang diberinya. Pola asuhnya yang penuh empati dan lembut ini membuat Issa merasa nyaman dan penuh dukungan, terutama saat menghadapi rasa kekecewaan.

Memahami emosi dan perasaan anak itu bagai menata puzzle warna-warni, setiap potongan perasaan harus ditempatkan dengan lembut dan hati-hati agar gambar utuhnya terlihat dengan jelas. Dan itulah yang selalu Nikita terapkan, dia berusaha memahami emosi dan perasaan Issa, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan selalu memberinya dukungan saat menghadapi kesulitan. Nikita tetap menekankan komunikasi dan kata-kata yang mendukung, agar Issa nyaman dan terbuka dengan perasaannya. 

Nikita juga menerapkan metode ”zero distraction” saat makan agar interaksi penuh dengan orang tua, membantu anak dalam mengenal emosi dan bertatap muka langsung dengan orang-orang sekitarnya.

”Karena kalo sekali udah ngeliat gadget, dia akan fokus ke gadget itu dan maunya nonton terus. Dan di saat anak maunya nonton terus, dia akan males ngapa-ngapain, dia akan malas belajar merangkak, dia akan malas belajar untuk mengunyah untuk makan, atau dia akan malas belajar dan eksplore hal-hal baru yang harusnya anak seumur ini tuh udah belajar gitu. Jadi, sebisa mungkin aku tidak memberikan gadget, apalagi saat makan. Karena pada saat makan aku mau dia bener-bener duduk di hitcher, dia fokus dengan makanan apa yang ada di depannya, dan dia bener-bener dengan kemauan diri sendiri untuk memasukkan makanan itu ke mulutnya dia,” ungkap Nikita, dikutip dari kanal YouTube Q&A Nikita Willy Official.

Tidak kalah penting, Nikita juga menyadari bahwa menjaga keseimbangan emosional dirinya sendiri adalah bagian dari tanggung jawab sebagai ibu. Dengan menyediakan waktu untuk me time—entah itu berbelanja, bersantai, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan—ia menjaga kesehatan mental dan emosionalnya agar tetap stabil. Keseimbangan ini akan sangat berpengaruh pada suasana hati dan pola asuh yang diterapkannya, yang pada akhirnya berdampak positif bagi tumbuh kembang EQ anak.

Kecerdasan emosional bukan sekadar mengelola perasaan sendiri, tetapi juga soal membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Anak dengan EQ tinggi, cenderung lebih tangguh, percaya diri, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Mereka mampu menjalin relasi yang luas dan harmonis, serta lebih siap menghadapi tantangan hidup yang kompleks. Dengan membekali anak sejak dini melalui pola asuh yang tepat, kita memberikan mereka modal penting untuk masa depan yang lebih cerah.

Kisah Nikita Willy dan Issa Xander mengingatkan kita bahwa membentuk kecerdasan emosional anak adalah proses yang membutuhkan komitmen dan kesadaran penuh dari orang tua. Tidak cukup hanya memberikan nasihat atau aturan, tetapi melalui interaksi nyata dalam keseharian, orang tua dapat menjadi guru terbaik bagi anak-anaknya. Kesabaran, kedekatan emosional, komunikasi positif, dan pengelolaan emosi yang baik adalah resep utama dalam membangun EQ anak.

Bagi para orang tua, khususnya ibu muda gaya parenting Nikita bisa menjadi inspirasi berharga. Dengan pendekatan yang penuh cinta, disiplin, dan empati yang tulus, kita bisa membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bahagia, dan mampu menghadapi dunia dengan hati yang tenang serta pikiran yang jernih. Karena pada akhirnya, anak yang cerdas secara emosional adalah anak yang siap menjalani hidup dengan penuh percaya diri dan penuh kebahagiaan. 

Rivanti Erawati

Halo! Saya Rivanti Erawati, penulis di Kanvasan.id. Blog ini saya buat pada, 25 Agustusus 2025. Melalui blog ini, saya ingin berbagi pengalaman, cerita, dan berbagai informasi menarik dengan Anda. Selamat datang di Kanvasan.id! Semoga Anda menikmati setiap tulisan yang saya bagikan di sini.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Popular Items