Ilustrasi seorang wanita yang menyendiri, memikirkan kemampuan
dan kepercayaan dirinya sendiri. (Dok. freepik)
Jakarta, Kanvasan.id - Pernahkah kamu, merasa kurang puas terhadap kemampuan diri sendiri? atau, pernahkah kamu berpikir selintas, bahwa semua yang pernah kamu kerjakan itu sebenarnya dapat lebih baik?
Terkadang, pikiran seperti rasa kurang puas itu kerap muncul di benakku. Contohnya, pada waktu-waktu tertentu, saat badan sudah bekerja keras, dan lelap itu mampir, tetapi yang datang di benak itu Cuma, “tadi gua kerja udah maksimal belum ya?” atau “jangan-jangan omongan gua tadi nyakitin perasaan dia?” padahal, situasi dan percakapan yang dipikirin itu sudah berlalu.
Tapi, entah karena tindakan yang dilakukan tanpa kita sengaja, keputusan yang terburu-buru, hingga perkataan yang bisa saja menyakiti hati seseorang tanpa kita sadari. Jadi buat kita mikirin hal itu terus, pikiran gitu selalu datang tanpa permisi. Dan kadang ngerasa too much banget gak sih? awalnya aku selalu berfikir seperti itu, selalu merasa kalau aku ini terlalu sensitif, apa-apa dirasa dan dipikirin. Padahal, orang juga belum tentu ingat sama apa yang dilakukan.
Seiring pengalaman, waktu, dan banyak hal dilalui. Hal seperti ini, yang malah dibutuhin buat diri sendiri. Ini bukan sekadar rasa khawatir dan cemas berlebihan saja. Ini adalah bentuk dari refleksi diri, sikap mengenali, memahami, dan menilai diri sendiri dengan apa yang telah terjadi. Menurut situs Alodokter, refleksi diri merupakan bagian dari proses introspeksi diri yang dilakukan dengan cara melihat kembali dan merenungkan berbagai hal yang telah terjadi di dalam hidup, seperti pengalaman, kebiasaan, dan keputusan yang pernah diambil.
Tujuannya agar kita bisa memperbaiki sikap, evaluasi diri untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di masa depan. Refleksi ini bukan berarti tindakan merendahkan diri sendiri, bukan pula agar kita terus menyalahkan kesalahan-kesalahan kita di masa lalu. Justru, dengan adanya refleksi diri ini menjadi jembatan untuk dapat mengenal diri lebih dalam—apa yang membuat diri merasa gagal, apa yang membuat diri merasa bersalah, dan apa yang harus dilakukan untuk menjadi lebih baik.
Dan aku mulai menyadari, di balik perasaan cemas itu sebenarnya ada rasa tanggung jawab. Baik terhadap pekerjaan yang dirasa belum maksimal, hingga tanggung jawab terhadap perasaan orang lain yang mungkin sempat tersakiti oleh sikap dan ucapan. Refleksi diri ini mengajarkanku bahwa menjadi manusia tidak hanya serta-merta menyelesaikan tugas, tapi juga tentang tanggung jawab terhadap pekerjaan yang belum maksimal, serta tanggung jawab terhadap perasaan orang lain yang mungkin sempat tersakiti oleh ucapan atau sikapku.
Refleksi diri ini mengajarkanku bahwa menjadi manusia tidak hanya tentang menyelesaikan tugas, tapi juga tentang menyadari bahwa setiap tindakan dan kata-kata kita punya dampak bagi orang lain. Karena terkadang, kita terlalu fokus pada apa yang menjadi hasil dari kerja keras itu. Bertanya-tanya seolah memastikan bagaimana kelancaran dan hasil dari kerja tersebut? apakah nilainya bagus? apakah orang menilai kita sebagai pribadi yang produktif? apakah pekerjaannya selesai? tapi di balik semua terkaan itu, kita juga harus bertanya pada diri sendiri.
”Ini gua udah jujur belum sih ngerjainnya? Apa gua udah amanah dan penuh tanggung jawab? Tadi mereka sakit hati gak ya sama omongan gua? Mau tau deh, gimana kinerja gua hari ini? Kayaknya kurang fokus dan bener ngerjainnya” Pertanyaan-pertanyaan itu yang sebenarnya menjadi titik refleksi diri dan evaluasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dan dari pertanyaan yang muncul tiba-tiba dari otakku, dapat mengubah cara pandangku.
Tanpa pertanyaan seperti itu, mungkin aku hanya akan bertanya dan melihat hasil dari kinerja ku, bukannya melihat proses yang sedang aku kerjakan. Aku menjadi lebih memahami proses, dengan lebih berhati-hati pada saat bicara dan bekerja dengan siapa saja. Mencoba lebih peka terhadap ekspresi lawan bicara, dan berusaha untuk mengendalikan emosi saat emosi sedang tidak stabil. Aku juga sering meminta evaluasi dari kinerja ku, meminta kritik dan saran yang memang harus diketahui.
Kritik bukan selalu tentang menjatuhkan, tetapi bisa menjadi jembatan untuk perbaikan diri. Memang tidak mudah. terkadang aku masih overthingking soal perkataanku yang membuat seseorang terluka, terkadang juga momen-momen yang memalukan yang menjadi penyesalan itu sesaat menghantui pikiranku. Tapi dari situlah aku bisa belajar memahami diri dan kekuranganku, aku bisa mengevaluasi diriku untuk pribadi lebih baik ke depannya.
Mulai membenahi diri dan bertanggung jawab atas pikiran serta perasaan orang lain memang tidak mudah. Tapi, refleksi diri membawa banyak manfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang di sekitar. Temanku pernah menyadari perubahan sikapku, salah satunya kebiasaan burukku yang suka memotong pembicaraan saat orang lain sedang berbicara. Awalnya aku tidak sadar, tapi setelah merenung dan mengevaluasi diri, aku mulai mengubah sikap itu perlahan-lahan.
Sampai akhirnya temanku berkata, “Gua seneng deh, lu sekarang kalo ngobrol sama kita itu udah gak pernah motong omongan orang gitu.” Kalimat itu sederhana, tapi membuatku merasa proses memperbaiki diri ternyata benar-benar terlihat dan berarti. Mungkin bagi banyak orang, refleksi diri adalah proses yang sunyi. Mereka tidak tahu ketika kita sedang termenung, memikirkan sesuatu hal hingga menjadi overthingking karena perasaan yang entah salah atau benar.
Namun, dalam kesunyian itu, kita bisa berdialog dengan diri sendiri, bisa jujur tanpa takut dihakimi. Refleksi diri mengajarkanku bukan hanya soal melaksanakan kewajiban formal. Tetapi juga, soal berani berbicara dengan diri sendiri, mengakui kesalahan diri, dan perlahan berusaha memperbaiki diri. Jadi, kalau kamu ngerasa bersalah atau lagi kecewa sama diri sendiri, itu wajar banget. Terkadang, justru dari rasa bersalah itu kita bisa jadi pribadi yang lebih peka dan hati-hati ke depannya. Intinya, selama kamu masih mau belajar dan berkembang, kamu berada di jalan yang benar.
Maka dari itu, ketika pertanyaan-pertanyaan itu muncul dipikiran. jangan langsung mengusirnya, coba dipahami, dengarkan, dan terus berdialog atau bertanya ke diri sendiri. Karena bisa jadi, ini adalah cara pembentukan diri kamu menjadi lebih baik. Dan dari situlah, kita dapat tumbuh — meskipun perlahan, tapi pasti.
Tags:
Feature
